Rabu, 26 Maret 2014

Jalan rezeki

Tiga Jalan Diturunkannya Rezeki


Ilustrasi. (inet)

dakwatuna.com - Cerita hari ini sedikit renyah dan gurih untuk dinikmati (ups, memangnya kerupuk?) saat kajian tafsir Al-Quran. Sebelum pulang, pada sesi penutupan. Guruku menutup dengan materi yang luar biasa. Kali ini tentang rezeki. Ya, banyak yang sudah mengetahui, bahkan sudah hafal di luar kepala. Kalau rezeki, jodoh dan maut itu sudah menjadi ketetapan Allah. Dan rezeki itu bisa datang dari arah mana saja. Tapi ‘unik’ menurutku, masih banyak di antara kita yang menggantungkan rezeki dari satu ‘pintu’ saja. Padahal banyak sekali rezeki yang Allah berikan kepada kita, dan bisa melalui ‘pintu’ mana saja (bukan pintu ke mana saja si doraemon ya).
Tetapi terkadang kita tidak menyadarinya. Nah, kali ini tentang rezeki yang akan diceritakan adalah tentang jalan turunnya rezeki. Selama ini mungkin kita melihat banyak sekali orang-orang di luar sana yang non muslim, tetapi dilihat dari materi, mereka bahkan punya materi yang lebih dari kita (sebagian muslim). Kenapa? Padahal, bukankah katanya maksiat bisa menghambat turunnya rezeki. Bukannya mereka sering berbuat maksiat? Bukankah mereka bukan seorang muslim yang mengakui bahwa Allah adalah Illah nya? Kenapa mereka bisa memiliki rezeki yang lebih, daripada kita sebagai seorang muslim? Nah, ternyata ada 3 jalan turunnya rezeki… yakni:
  1. Rezeki mutlak, yaitu rezeki yang pasti Allah berikan kepada setiap makhluk hidup. Jadi, selagi kita masih hidup, rezeki seperti ini pasti kita dapatkan. Misalnya, banyak orang yang tidak berkecukupan, tetapi masih bisa makan. Walaupun apa dan banyaknya makanan yang dimakan mungkin berbeda.
  2. Rezeki yang diusahakan, yaitu rezeki yang didapat ketika kita berusaha. Jika rezeki kita kecil, bisa jadi usaha kita masih kecil. Dan jika rezeki kita besar bisa jadi karena usaha kita yang besar. Tetapi terkadang ada orang yang sudah berusaha semaksimal mungkin, tetapi rezeki nya masih segitu-gitu saja, dengan kata lain masih terbilang kecil. Nah lho? Yach, mungkin kadar rezeki yang ia dapatkan memang hanya sewajarnya untuk dirinya. Dan mungkin, rezeki yang sewajarnya itulah yang bisa membuatnya lebih dekat dengan Allah. Bisa jadi, si penerima rezeki tersebut belum siap dan belum pantas untuk mendapatkan rezeki yang lebih. Dan bisa jadi ketika ia diberikan rezeki yang lebih, ia malah jauh dari penciptanya. (wallahu’alam)
  3. Rezeki yang dijanjikan karena amalan baik yang kita lakukan dan karena ketaqwaan kepada Allah. Takwa merupakan salah satu sebab yang dapat mendatangkan rizki dan menjadikannya terus bertambah. Allah Subhannahu wa Ta’ala berfirman yang artinya,
    “Barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan ke luar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya.”(At Thalaq: 2-3)
Dari penjelasan di atas, dapat sama-sama kita simpulkan bahwa rezeki itu, sudah ditetapkan oleh Allah, hanya saja bagaimana usaha kita menjemput rezeki itu. Dan tentunya dibarengi dengan ketaqwaan kita terhadap Pencipta. Jika mereka (non muslim) memiliki rezeki yang lebih, mungkin karena mereka memaksimalkan jalan yang ke dua (poin ke 2).  Tetapi kita bisa memiliki rezeki yang lebih dari mereka jika kita memaksimalkan poin ke dua dan ke tiga. Yakni memaksimalkan usaha dan doa serta tawakal kepada Allah. Serta memperbanyak bertaubat. Bisa jadi, salah satu penghambat rezeki itu turun karena kita masih banyak berbuat maksiat.
Jika di atas sudah dikatakan bahwa rezeki itu bisa datang dari arah mana saja, dan tanpa kita duga. Ya benar sekali. Seperti yang diceritakan oleh seorang sahabat. Ketika mampir untuk sekadar istirahat dan menikmati sepotong ice cream bersama teman-temannya di sebuah masjid. Mereka mencoba mencari posisi yang nyaman untuk duduk. Ketika baru saja duduk, tiba-tiba ada beberapa orang yang sedang berdiri di depan pintu tidak jauh dari posisi mereka duduk. Rupanya, di masjid tersebut sedang diadakan walimahan seorang santri. Karena melihat mempelai wanitanya tidak jauh dari posisi duduk mereka. Akhirnya mereka bangun dan mengucapkan selamat sembari mendoakan agar menjadi keluarga sakinah mawaddah warahmah.
Eh ternyata, dari sanalah datang nya rezeki tersebut, mereka malah ditawari untuk masuk dan makan bersama dalam resepsi pernikahan tersebut. Subhanallah, memang rezeki itu bisa datang dari mana saja dan tanpa kita duga. Hanya saja terkadang kita yang tidak menyadarinya, karena masih sedikitnya ilmu yang kita miliki.  Siapa yang menyangka di masjid itu sedang ada walimahan? Karena memang tidak terlihat seperti ada resepsi di sana, dan tentunya tidak ada yang memberitakan kepada mereka. Siapa sangka kaki yang digerakkan oleh Allah saat itu untuk ke masjid, adalah salah satu jalan bagi mereka untuk mendoakan mempelai dan menikmati hidangan resepsi tersebut? Ya tidak ada yang bisa menduga, hanya Allah sajalah yang mengatur semuanya. Tinggal bagaimana kita menjalaninya dan mengambil hikmah di setiap kejadian yang kita alami.

Sabar meraih sukses

Simpan Dulu Kepedihanmu, Ceritakanlah Nanti Setelah Kamu Sukses



dakwatuna.com - Bismillah…
“Seorang yang kurang amalan-amalannya maka Allah akan menimpanya dengan kegelisahan dan kesedihan.” (HR. Ahmad)
Bingung, hilang mood untuk menulis gara-gara teman nan setia menamani menulis sudah tidak bersahabat dan Alhamdulillah akhir dapat pengganti yang baru. Mungkin selama ini kebiasaan menulis selalu merasa enak tenan di laptop, seakan-akan menulis di laptop ide lancar jaya seperti tol Cipularang yang menghubungkan kota Jakarta dengan kota Bandung. Mungkin kenapa menulis laptop lebih enakkan dibanding menulis di kertas karena laptop tua itu memiliki sejarah panjang dalam merampung pendidikan dan meraih gelar strata satu hingga title Magister. I don’t know why interesting if writing on laptop.
Pada akhirnya harus kembali menulis di kertas-kertas bekas selama 2 bulan lamanya. Takutnya jika laptop alasan tidak menulis bisa membunuh habbit yang sudah terbangun selama ini. Padahal hobi menulis adalah excellent, sebab tidak semua orang bisa merangkai kata menjadi taujih yang menggugah jiwa bagi pembaca. Bersyukurlah mereka yang mempunyai hobi menulis, selain sebagai ibadah tentu ada nilai lain yang terlihat wooww oleh mereka yang tidak bisa menyatukan kalimat.
Heeemmm…. Lain  tema kok lain pula menjadi introductionnya!! Semoga pembaca tidak bingung apalagi bergoyang oplosan huakss-huakss maklum sekarang lagi tren bagi mereka yang kebingungan langsung oplosan. Baiklah kita langsung membahas atau mengulas atau mengulik-ulik secara unik dan memikat tentang tema di atas. Bahwa sesungguhnya kita manusia selalu mendapat giliran kepedihan dalam kehidupan seperti belahan dunia mendapat giliran sinar matahari dan gelapnya malam. Kepedihan juga dipengaruhi oleh berbagai sebab atau suasana. Terkadang kepedihan itu membuat manusia itu terombang-ambing seperti bui di laut yang begitu gampang terbawa arus. Bahkan terombang-ambing hingga ke akar-akarnya seperti pohon tidak bisa bertahan dengan pergantian cuaca. Terkadang kepedihan malah membuat manusia semakin strong ibarat semut bertahan dengan predator yang siap menerkam kapanpun.
Namun yang menjadi permasalahan ketika dilanda kepedihan yaitu bagaimana cara menata, mengelola dengan cantik atau mengemasi kepedihan tersebut dengan indah sehingga tidak ada siapapun atau satu pun manusia mengetahui kalau kita sedang dilanda kepedihan, diterjang duka, digembor kesedihan karena kita memiliki prinsip bahwa ketika mendapat ujian dari manusia maupun Allah cukup Allah yang mengetahui duka itu. Sangat jarang manusia bisa menahan kepedihan tersebut, yang banyak adalah manusia yang selalu mempublish kepedihan pada manusia, baik melalui komunikasi langsung maupun tidak langsung. Di zaman teknologi banyak media, tool dan jaringan memfasilitas manusia untuk menunjukkan duka pada dunia.
“Barangsiapa dikehendaki Allah kebaikan baginya maka dia diuji (dicoba dengan suatu musibah).” (HR. Bukhari)
“Apabila Allah menyenangi hamba maka dia diuji agar Allah mendengar permohonannya (kerendahan dirinya).” (HR. Al-Baihaiqi).
“Barangsiapa ditimpa musibah dalam hartanya atau pada dirinya dirahasiakannya dan tidak dikeluhkannya kepada siapapun maka menjadi hak atas Allah untuk mengampuni-Nya.” (HR. Ahmad)
“Barangsiapa diuji lalu bersabar, diberi lalu bersyukur, dizalimi lalu memaafkan dan menzalimi lalu beristighfar maka bagi mereka keselamatan dan mereka tergolong orang-orang memperoleh hidayah.” (HR. Al-Baihaqi).
“Tiada seorang muslim tertusuk duri atau yang lebih dari itu, kecuali Allah mencatat baginya kebaikan dan menghapus darinya dosa.” (HR. Bukhari)
Padahal tidak menguntungkan pihak yang sedang kepedihan, sedang kesedihan, sedang berduka malah sebaliknya hanya sebatas ejekan, doa tak ada ruhnya atau sebatas like this your status bahkan yang didapat hanya tawa. Karena seperti itu realitas terjadi, coba kita renungi ayat berikut ini Ya’qub menjawab: “Sesungguhnya hanyalah kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku, dan aku mengetahui dari Allah apa yang kamu tiada mengetahuinya. (Yusuf: 86)
Ketika kepedihan merasuki jiwa sebaiknya menyimpan rapat-rapat sehingga angin pun tidak bisa menembus ruangan tempat kita menyimpan suasana duka itu. Bahkan debu-debu beterbangan pun tidak bisa hinggap di ruangan itu. Apalagi manusia tentu tidak mengetahui. Ketika kepedihan menyentuh seluruh raga cukup disimpan dengan kunci keikhlasan atau cukup diceritakan pada Allah tempat segala urusan dikembalikan.
Jangan jadikan kepedihan sebagai bom waktu dan bekukan kepedihan dengan banyak mengingatkan kenikmatan Allah dengan banyak melaksanakan sunah-Nya. Dan ceritakan kepedihan itu setelah menjadi orang sukses di atas landasan syar’i sebagai motivasi mereka yang ingin sukses tetapi selalu dirundung kesedihan.  Setelah sukses ceritalah segala lika-liku kesedihan pernah ditemui, pernah di alami dan biarlah kesedihan atau kepedihan membawa kita pada maqam tertinggi di hadapan Allah maupun manusia.

Sumber: http://www.dakwatuna.com
Follow us: @dakwatuna on Twitter | dakwatunacom on Facebook

Selasa, 25 Maret 2014

4 Pertimbangan Konsumen Sebelum Membeli Produk Baru

4 Pertimbangan Konsumen Sebelum Membeli Produk Baru 

Memperkenalkan produk baru ke kalangan masyarakat luas, memang bukan pekerjaan gampang bagi sebagian pelaku usaha. Dibutuhkan tahapan atau proses yang tak sebentar hingga akhirnya produk baru tersebut bisa dikenal dan diterima dengan baik oleh kalangan masyarakat luas.
Sedikitnya ada empat proses tahapan yang dialami para konsumen sebelum akhirnya mereka memutuskan untuk melakukan pembelian produk baru.
Yang pertama adalah tahapan awareness. Pada tahapan ini calon konsumen mulai menaruh perhatian terhadap produk baru yang Anda pasarkan, namun dalam tahapan ini mereka masih belum begitu mengenal dan memiliki sedikit informasi mengenai produk baru yang Anda pasarkan. Karenanya sebagai pelaku bisnis,tugas utama Anda adalah menyebarluaskan informasi produk tersebut kepada target pasar yang dibidik agar calon konsumen yang berada dalam tahapan awareness ini dapat dengan mudah mendapatkan informasi mengenai produk Anda.
Kedua adalah tahapan interest. Ketika memasuki tahapan ini, biasanya konsumen mulai tertarik untuk mencari informasi lebih lanjut mengenai produk baru yang Anda pasarkan. Oleh sebab itu, tugas berikutnya yang perlu dijalankan para pelaku pasar adalah mempersiapkan marketing tools sekreatif mungkin agar konsumen yang awalnya tertarik bisa terdorong untuk melakukan transaksi pembelian. Contohnya saja seperti membuat brosur, katalog produk, kartu nama, dan lain sebagainya.
Tahapan yang ketiga adalah evaluation. Setelah mendapatkan informasi lengkap mengenai produk baru yang Anda pasarkan, berikutnya tahapan yang dihadapi konsumen adalah mulai mempertimbangkan apakah akan membeli produk tersebut atau tidak. Biasanya pada tahapan ini konsumen mempertimbangkan keputusan setelah melakukan ujicoba langsung terhadap produk tersebut. Karena itu, disarankan bagi para pelaku usaha agar bisa memberikan sampel produk yang terbaik sesuai dengan kualitas yang ditawarkan agar calon konsumen Anda memberikan hasil evaluasi yang memuaskan.
Terakhir, tahapan yang keempat adalah adoption. Apabila pada tahapan evaluation, calon konsumen mendapatkan hasil yang memuaskan, maka tidak menutup kemungkinan bila pada akhirnya mereka memutuskan untuk membeli dan menggunakan produk baru tersebut secara rutin. Tentu tidak mudah bagi para pelaku bisnis untuk bisa mengantarkan calon konsumen pada tahapan ini, karenanya di tahapan adoption ini Anda harus bisa menjaga mutu produk dan memberikan pelayanan yang terbaik agar produk-produk Anda tetap dicintai para pelanggan.