Banyak cerita dari teman-teman yang memilih jadi pedagang daripada jadi karyawan ataupun pekerjaan sejuta ummat; PNS. Saya menyebutnya pengusaha. Walaupun terlihat sepele, tetapi Subhanallah, mereka tetap bisa hidup dan bahagia. Standarnya apa? Mereka masih tetap kontak dengan saya, artinya mereka hidup. Mereka tidak pernah mengeluh, apa yang mereka butuhkan selalu mudah didapat. Mungkin saya mengartikan itu sebagai bahagia. Dari diskusi dengan mereka, masing-masing punya rumus usaha yang berbeda. Tetapi, secara garis besar, tetap sama. Bahkan, dari sekian banyak buku yang bertemu bisnis dan tayangan-tayangan para marketer atau pengusaha-pengusaha besar, rumusnya sama. Action!!
Hahay... ini yang jadi masalah. Saya hanya seorang karyawan. kerja dari pagi sampai malam. Pulang kerja sudah capek. Kapan mau buka usahanya? Ya sudahlah. Saya tetap berusaha untuk mencari ide. Sebenarnya banyak yang bilang saya aneh. Di siang hari, saya sanggup memotivasi seseorang yang tidak punya kerjaan hingga dia buka usaha. Lha koq saya tidak bisa. Salah sendiri kerja sampai malam. Hahaha... saya mulai ngelantur. Tapi akhirnya saya bisa mulai juga. Saya jualan es mambo. Saya tidak meniru bos saya yang dulunya jualan es mambo. Tetapi, ini yang masuk akal untuk sementara ini. Bahan mudah didapat, cara buatnya gampang. Yang penting halal, tetap higienis dan sehat. Mengenai untung, sedikit saja. Kalau mau dihitung detail seperti ditempat kerja, ngga lah ya.. pastinya rugi. Hahaha...
Es susu stroberi produk pertamaku. Tidak dicampur air!! Susu murni langsung dari kandang sapi, saya masak diberi gula tebu plus perisa stroberi. Tidak ada bahan tambahan lain. Es mambo buatanku saya titip di warnet saudara. Sore saya titip, bada isya di sms: "es sudah habis". Alhamdulillah.
Buru-buru update status: Juragan es mambo.. Hahaha... ini mantra motivasi saya. Sekarang, saya rutin produksi es mabo aneka rasa setiap bada isya. Alhamdulillah...
Rumus pertama teman-temanku terbukti. Rumus kedua: jujur. Jujur adalah kunci dunia akhirat. Saya tidak pernah melanggar aturan ini.
Rumus ketiga adalah modal bukan segalanya. Modal bagi sebagian orang adalah kata pertama yang diucapkan. Tetapi, saya sadar, saya adalah modalnya. Saya punya otak, hati, mata, kaki, de el el. Saya maksimalkan semuanya. Alhamdulillah, dengkul yang jadi modalnya. Hanya bermodal ucapan yang menyakinkan, semua yang saya butuhkan dengan mudah datang sendiri. subhanallah..


